- Yang Penting Semua Hepi -
Bertemu sekali lagi.
Berpisah sekali lagi.
Chapek deeeh…
24.01.07
Sindrom abis liburan : malas kembali ke kehidupan nyata.
Senin yang lalu, rasanya udah kangen banget sama Bandung. Nyatanya, dalam hitungan jam setelah menginjakkan kaki di rumah, gue dan Swarna ngga bisa berhenti memikirkan ‘teman seperliburan’ kami yang selama dua minggu terakhir udah bikin hari-hari kami berwarna. (Ceilee… bahasanya bo’… terlalu diperbuas.)
Rute perjalanan : Bandung-Cilacap-Yogya-Tuban-Surabaya-Tuban-Semarang-Cilacap-Bandung
Menyenangkaan. ^_^ I got to do a lot of things I like.. ngeliat laut sampe bosan, berenang sampe kram (always, always… duh), ngitung bintang, wisata kuliner, gossip session with my aunt,…
Ditambah Audi dan Rian yang so sweet and kocak selama perjalanan.
Nothing extraordinary, really, but enough to make me go through the 2 weeks without a single pout (FYI, ngilangin muka jutek masuk dalam list resolusi taun baru gue. Jadi 2 minggu penuh senyum, buat gue merupakan suatu prestasi ^_^).
Tempat favorit selama liburan: WBL aka Wisata Bahari Lamongan. Waktu diajak ke sana, sempat skeptis juga (skeptis bahasa indonesia bukan sih ?). Ternyata tempatnya bersih, rame dan nggak ngebosenin. Yang paling oke tuh permainan airnya (berhubung udaranya super panas, semua yang berhubungan dengan air gue acungi jempol ^_^’). Gue lupa nama wahananya. All we had to do was walk along the paths in a small park and… get wet.
Asik deh. =) Semua orang berusaha menghindari semprotan air yang muncul tiba-tiba dari berbagai sudut taman. And no matter how smart you are, you won’t get out of the place dry. Secara, di pintu keluarnya semprotan airnya disusun melingkar di tanah dan selalu mengeluarkan air tiap kali orang lewat untuk exit.
Intinya, kalau kita nggak mau basah kuyup, mendingan nggak usah masuk wahana ini.
Another highlight of my vacation was my reunion with Mayda and Michelle. It’s always nice to meet your old friends again. Apalagi kalau bisa saling mengingatkan dan memotivasi untuk meraih impian masing-masing… bukannya hanya larut dalam kenangan masa lalu. =)
Well… Harusnya after having all the fun I had, gue udah siap mental buat kembali menghirup udara Bandung. But I’m not. *sigh* Don’t even think of asking me why, cause I wouldn’t be able to come up with a reasonable answer. Alasan yang terpikir oleh gue saat ini : hawanya bikin bete. >> ga jelas, kan??
Anyway. Apa yang gue dapat dari liburan yang lalu? It doesn’t matter where you are – in a super hot city or just a quiet small town with no shopping mall ^_^’; even in the middle of nowhere -, as long as you have somebody to laugh with, you’d be okay.
Just relax and take it easy. =))
Next project : baca ‘Tuesdays with Morrie’ karangan Mitch Albom. (ga penting ya infonya?? ^_^’)
-Cheers to all-
Uncategorized | Comment (0)On ne sait jamais quand le jour arrive…
To all
- just decide which lines are yours
-
Thank you,
For being someone who cares…
For sacrificing your precious time…
Thank you,
For wishing me luck…
For asking me to wish you luck…
For giving me reasons to dream…
For motivating me to make my dreams come true…
For telling me to ‘talk to your hand’…
For letting me do what I want with the radio…
For being narcisstic…
For making me laugh…
For asking me to cancel my departure…
For not believing in first impression…
For considering me your sister…
For underestimating me…
For breaking my heart…
making me sick…
and strong in the end.
For making my life the way it is.
Thank you.
Uncategorized | Comments (2)One More Sin - part 4 (- the end - )
“Apa?!”
“Dikubur.” Begitu ringan dan tanpa beban pria itu menjawab pertanyaan Valerie; Valerie seketika ingin memakinya. Tapi tentu saja hal itu tak dilakukannya. Jangan-jangan hukumannya nanti malah diganti jadi dibakar.
Semuanya berlalu dengan begitu cepat. Valerie dipaksa dibungkus dengan kain putih. Ujung kain itu diikat di atas kepalanya dan ia dibaringkan di atas sebuah meja panjang di tengah ruangan.
Valerie terbaring dalam sunyi. Terabaikan. Bingung. Marah. Kesal karena tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan orang-orang di sekitarnya. Apa yang selanjutnya akan mereka perbuat padanya.
Lord, please tell me this joke is gonna be over. I didn’t kill her. Let them know that I didn’t kill her… please… Valerie tidak tahan lagi. Air matanya mulai meleleh. Pipinya terasa hangat. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Valerie benar-benar sadar akan indera perabanya. Pipinya yang basah, tangannya yang bersentuhan dengan kain kasar pembungkusnya, jari kakinya yang dingin… Mungkin karena sebentar lagi inderanya tidak akan bisa berfungsi sampai selama-lamanya.
I just wanted to have fun.. Valerie berusaha keras menahan isak tangisnya sampai-sampai dadanya sakit.
Bagian kaki Valerie mulai diikat. Tak lama lagi orang-orang akan mengangkatnya dan membawanya entah ke tanah mana, untuk dibuang dan dilupakan. Ditimbun tanah… diam di perut bumi tanpa terang, tanpa rasa… terus sendiri, entah sampai kapan… ditemani entah binatang apa, entah setan mana…
Air mata Valerie semakin deras. I gotta die now. I want to die now. Daripada menunggu kematiannya dalam sepi di dalam tanah, lebih baik mati saat itu juga, saat suara orang-orang masih terdengar dan sedikit terang masih menerobos kain putih yang membungkusnya.
Valerie lalu mengucapkan doa dalam hatinya, meminta agar dirinya segera dipanggil Yang Kuasa.
…
Valerie menunggu doanya dikabulkan. Tiap detik semakin membuatnya merasa gila.
Ide itu lalu muncul. Valerie menarik napas dalam-dalam, berharap itu akan menjadi kali terakhir ia menghirup udara, kemudian menahannya… dan terus menahannya. Valerie memejamkan matanya, menolak untuk mengembuskan napasnya. Mungkin dengan begitu, ia akan mati.
Usahanya sia-sia. Dadanya sakit, dan akhirnya ia menyerah.
Valerie tersentak. Seseorang memegang bagian kaki Valerie. Valerie lalu merasakan seorang lain memegang kepalanya. Tubuhnya terangkat dan tangan-tangan lain ikut membantu membawanya.
Valerie ingin memberontak, berteriak memaki mereka semua. Namun seluruh otot-ototnya terasa lemas, suaranya seperti hilang ditelan bumi, hanya bisikan yang sanggup keluar dari mulutnya.
“Saya nggak bersalah…”
Kembali air mata Valerie mengalir. Namun kali ini Valerie hanya merasa dingin. Dingin yang tak akan pernah bisa dihangatkan lagi.
31 Desember 2006. Pukul 23.17 WIB.
“Kak Vaaal!!”
…
“Kak Val!” Adeline mengeraskan volume suaranya dengan tidak sabar. “Udah jam sebelas lewat nih!”
Valerie tersentak. Kepalanya terangkat dan tangannya spontan mengucek-ucek matanya yang berair. Ia masih berada di atas atap. Sekujur tubuhnya terasa sakit, karena posisi tidur yang tidak nyaman.
“Tidur di genteng. Masuk angin ntar…” Adeline mulai mengomel.
Valerie bangkit berdiri dan bersiap memanjat untuk kembali ke dalam rumah. Sesekali masih terdengar isakan kecil saat ia bernapas.
“Dih, pake nangis lagi tidurnya,” ledek Adeline.
Valerie tersenyum kecut. “Mending nangis deh, daripada mati waktu tidur,” gumamnya.
“Apa?” tanya Adeline.
“Nggak.”
“Buruan gih, cuci muka. Bentar lagi mau kebaktian,” tukas Adeline sambil meninggalkan kakaknya untuk bergabung bersama anggota keluarga yang lain di ruang TV.
Valerie mengembuskan napas lega saat keluar dari kamar itu. Rasa takut masih menyelimutinya akibat mimpi buruk yang baru dialaminya, namun dada Valerie terasa sangat lapang.
I got my new year’s resolution, pikirnya saat membasuh mukanya di kamar mandi. Nggak nyusahin orang.
Valerie menatap bayangan wajahnya di cermin kecil yang tergantung di atas bak mandi. So glad to still be alive.
“Valerie!! Ayo turun!”
“Yo… comin’!”
The End
- RneSs -
One More Sin - part 3
Valerie dituduh sebagai bagian dari kelompok setan yang merencanakan pembunuhan Masayu Haningtyas.
“Sumpah, Pak! Saya cuma iseng ngerjain Mbak Masayu!”
“Ah, itu hanya alasan. Jangan coba-coba melindungi teman-teman Anda yang lain.”
Valerie kehabisan kata-kata. Otaknya tak kuat lagi berpikir, apalagi menjawab rentetan pertanyaan yang sama sekali tak ia mengerti. Ia hanya bisa memandangi dua polisi yang menginterogasinya dengan penuh rasa benci, muak.
Akhirnya Valerie dimasukkan untuk sementara ke dalam sebuah kamar sel yang gelap. Tak ada siapa-siapa, tak ada apa-apa. Hanya ada jeruji, jendela kecil yang jelas tidak berfungsi memungkinkan pergantian udara dalam sel, dan dirinya. Sendiri. Valerie tidak membiarkan dirinya duduk maupun jongkok. Hanya Tuhan yang tahu gimana keadaan lantai sel ini, pikirnya.
Valerie mematung. Diam. Tak mengumpat. Tak menangis. Tak berteriak marah. Hanya mematung…
Sampai akhirnya seorang petugas melepaskannya… hanya untuk kemudian membawanya ke sebuah aula yang menurut Valerie lebih tidak menyenangkan dibanding sel muram tadi.
Valerie berjalan melalui wajah-wajah yang tak dikenalnya, kemudian melalui Pak Lurah, orang-orang yang tadi menanyainya, orangtuanya..!
“Mama!” Valerie berniat berlari memeluk ibunya, namun urung ketika melihat kekelaman dalam mata wanita paruh baya itu.
Valerie melangkah mendekati ibunya, meraih kedua tangan ibunya dan menggenggamnya erat-erat. Namun ibunya seketika menarik lepas kedua tangannya.
“Mama kecewa, Val.”
Valerie serasa ditusuk berjuta jarum kecil dari kepala hingga kaki. “Tapi Valerie nggak salah, Ma.”
“…”
“Wouldn’t you at least ask for my explanation, my version of the story?” suara Valerie mulai meninggi karena marah. “Any of you?” Valerie mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan.
Tidak ada respons. Tempat itu penuh dengan orang, namun tak satu pun angkat suara menanggapi Valerie. Tak seorang pun tampaknya berbelas kasihan padanya.
“Ehem.”
Suara itu membuat semua berpaling ke bagian depan ruangan. Seorang pria berdiri memegang microphone. Valerie belum pernah melihatnya sebelumnya, tapi instingnya menyuruhnya untuk membenci sosok itu.
“Saudari Valerie Danar,” ujar pria itu. “Berdasarkan hasil musyawarah yang baru saja kami adakan, telah diputuskan dan disetujui oleh semua pihak bahwa anda harus dihukum mati.”
“Apa?” pekik Valerie. “Sejak kapan hukuman ditetapkan dengan musyawarah? Dasar gila.”
Pria itu menatap Valerie dengan dingin kemudian cepat beralih kepada orang-orang yang berdiri memandangnya dengan antusias.
“Valerie Danar dinyatakan bersalah dan karenanya akan dihukum mati,” tegasnya sekali lagi.
“Kalian bahkan tidak punya bukti!” Valerie nyaris menjerit.
“Ada. Kami punya buktinya. Semua orang di sini telah menyaksikannya ketika musyawarah tadi,” ujar pria itu dengan sikap tak peduli.
Dari sudut matanya, Valerie melihat dua orang bergabung dengan pria itu di depan ruangan. Salah satu dari mereka membawa kain putih yang terlipat dengan rapi. Mata Valerie langsung membulat ketika menyadari apa yang dibawa orang itu.
“Boleh saya mengajukan pertanyaan?” tanya Valerie.
“Silakan.”
“Hukuman matinya… seperti apa?”
“Dikubur.”
to be continued…
One More Sin - part 2
“Kemalangan, Pak?” Valerie tak dapat menahan dirinya untuk tidak bersuara. Wajah muram dan keheningan orang-orang di sekitarnya, nada suara Pak Lurah yang rendah dan berat, membuat Valerie merasa seolah berada di tengah-tengah areal pemakaman.
Pak Lurah menatapnya tajam, kemudian melanjutkan, “Ya. Kira-kira setengah jam lalu, Masayu Haningtyas, putri Widodo Haningtyas, ditemukan tak bernyawa di lingkungan kita.”
‘Haningtyas?’ Valerie berpikir keras, berusaha mengingat siapa pemilik nama tersebut. Ah… salah satu orang terkaya di kotanya. Pengusaha besar.
“Menurut anak tadi, anda terlihat berbicara dengan Masayu hampir satu jam yang lalu.”
“Ap-apa?” jantung Valerie berdegup kencang. “J-jadi… wanita tadi itu… Masayu?” gumamnya.
Pak Lurah mengerutkan kening dengan tak sabar, matanya tak pernah lepas dari gadis remaja di hadapannya. “Jadi benar, anda tadi berbicara dengan Masayu?”
“Benar…” ujar Valerie. “Tadi Mbak Masayu nanya alamat rumah Bapak…”
Seorang pria dari belakang Pak Lurah tiba-tiba bergerak mendekati Pak Lurah dan mengatakan sesuatu ke telinga Pak Lurah. Suaranya begitu pelan, hingga Valerie yang hanya berjarak beberapa inci dari Pak Lurah tak dapat menangkap apa yang disampaikannya.
Pak Lurah mengangguk-angguk menanggapi pria tersebut. “Baik,” Pak Lurah lalu kembali memperhatikan Valerie. “Saya minta Anda ikut dengan kami.”
Meskipun Pak Lurah mengatakan ‘minta’, Valerie tahu bahwa maksud Pak Lurah adalah ‘mengharuskan’. Dengan hati yang berat dan penuh tanda tanya, Valerie mengikuti Pak Lurah bersama orang-orang yang sedari tadi menyertainya.
Rumah Pak Lurah dipenuhi orang-orang yang sibuk berbicara dengan suara lirih satu sama lain, mondar-mandir masuk dan keluar ruang tamu sederhana yang sebenarnya tidak cukup menampung mereka semua. Beberapa dari mereka dikenali Valerie sebagai penduduk setempat, sebagian lagi sepertinya merupakan anggota kepolisian dan utusan Pak Widodo.
Valerie duduk sendiri di pojok ruangan, menggigiti bibir bawahnya dengan gugup. Tak seorang pun mengajaknya berbicara sejak dari taman tadi. Cat dinding ruangan yang berwarna putih bersih, perabotan nyaman yang didominasi warna coklat muda, akuarium mungil di sudut ruangan, foto-foto anggota keluarga Pak Lurah yang memamerkan senyum ceria… tak satupun dapat menghilangkan kegelisahan Valerie.
Ketika Pak Lurah berjalan melewatinya, Valerie mengacungkan tangan untuk kesekian kalinya malam itu dan berkata dengan keras, “Pak, boleh saya minta orangtua saya dipanggil kemari?”
Pak Lurah menatapnya sekilas dan mengangguk. “Eh… ya,” ujarnya, kemudian pergi meninggalkan Valerie untuk berbicara dengan orang di luar. Lagi-lagi.
Dari tadi cuma bisa bilang ‘iya, iya’ tapi pelaksanaannya nil. Valerie mulai kesal dan lelah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Pak Lurah kembali masuk ke dalam ruangan bersama seorang pria berbadan tegap dan berwajah dingin yang kelihatannya telah berusia 40-an tahun.
“Sepertinya anak ini bersekongkol dengan komplotan itu,” ujar Pak Lurah sambil menunjuk ke arah Valerie.
“Hah?” Valerie memandang kedua pria itu, meminta penjelasan.
“Beberapa saksi mengatakan bahwa Masayu pergi ke arah blok GG setelah berbicara dengan Anda. Bukankah Masayu menanyakan arah rumah saya pada Anda?” tanya Pak Lurah.
“Iya…”
“Lalu mengapa Masayu menuju blok GG, padahal letaknya bertolak belakang dari tempat ini?” potong pria di sebelah Pak Lurah.
“Ta-tap…” Valerie tak mampu menyelesaikan kata-katanya. Tubuhnya mendadak lemas.
Pria tersebut menatap Valerie lekat-lekat. “Sebaiknya Anda ikut kami ke kantor.”
“Kantor polisi, pak?” tanya Valerie.
“Ya iyalaaah… moso’ ke kantor pos?”
to be continued…
Uncategorized | Comment (0)One More Sin - part 1
Nih kerjaan gue sejak 1 Januari. Penyebab mata kiri gue super merah sekarang. And it’s starting to freak me out because it itches.. and I can’t rub it unless I want it to get worse.
Anyway. I dedicate this story to Condrat. Because last year I promised to send him my stories, tapi baru kesampean sekarang.
Ceritanya terinspirasi dari suatu pemikiran aneh yang sempat nyusup di otak gue waktu pergantian tahun. ^_^ When you’ve read it, you’ll understand why I’m so embarassed by the thought.
Hope you all had a blastin’ new year’s eve. And I wish u all a niiiiice year 2007.
One More Sin
31 Desember 2006. Pukul 18.57 WIB.
Valerie duduk bersila di atas sebuah sofa putih dengan tangan terlipat di depan dada. Matanya lekat menatap layar kaca di hadapannya, namun tampak jelas bahwa pikirannya berada jauh dari tempatnya kini duduk.
“Hahaha!” Roland, adik bungsu Valerie yang duduk di dekatnya, tiba-tiba tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan pembawa acara di televisi. “Kocak banget sih, ni orang…” komentarnya sambil menggelengkan kepalanya. Roland memandang kakaknya yang tak bergeming sejak awal acara.
“Ka Val,” panggilnya.
“…”
“Oi, ka Val!”
Valerie menarik napas dalam, kedua alisnya terangkat. Akhirnya ia bergerak memandang adiknya.
“Kenapa sih? Dari tadi diem aja,” ujar Roland.
“Bosen tau… malam taun baru di rumah,” keluh Valerie.
Roland hanya mengedikkan bahunya. “Biasanya juga gini tiap taun…” gumamnya pelan.
“Apa?” tukas Valerie dengan kening berkerut karena kesal.
“Nggak.”
Valerie berdiri, masih dengan wajah cemberut. Valerie lalu menaiki tangga di salah satu sisi ruangan. Lantai dua rumah Valerie merupakan tempat ia dan adik-adiknya biasa ‘mendekam’ sepanjang hari. Kamar mereka terletak bersisian. Sebuah kamar mandi terletak di ujung koridor selebar satu setengah meter yang dibatasi rel kayu. Dari atas, Valerie dan adik-adiknya dapat melihat ke ruang keluarga dan ruang tamu di bawah. Mereka bahkan dapat menonton TV di bawah dari atas.
Terdapat sebuah ruangan lagi di lantai dua, yang fungsinya menurut Valerie tidak jelas. Letaknya tepat di sisi tangga. Ukurannya hanya 1 m x 1 m. Di dalamnya hanya terdapat sapu, sebuah ember, kain pel, dan sebuah tong sampah. Namun ruang itu merupakan salah satu tempat favorit Valerie, terutama kala moodnya sedang berantakan seperti malam ini.
Setelah mengambil jaket dan senter di kamarnya, Valerie menuju ruang kecil tersebut. Valerie menutup pintu di belakangnya, kemudian memanjat satu-satunya jendela yang ada di kamar itu. Jendela tersebut sangat lebar dan langsung menghubungkan kamar tersebut dengan atap rumah Valerie.
Valerie berusaha untuk tidak menimbulkan suara saat menginjak genting hitam yang menaungi garasi di bawah. Meskipun kebiasaan memanjat ini sudah merupakan rahasia umum keluarganya, terkadang ayah Valerie masih marah jika mendapati salah seorang anaknya berkeliaran di atap.
Valerie akhirnya duduk, matanya bergerak mencari bintang di langit malam itu. Nihil. Akhirnya Valerie memandang lautan atap rumah di depannya. Keadaan jalan di lingkungan tempat tinggalnya masih terlihat sepi.
‘The fun’s over there…’ batin Valerie ketika melihat gemerlap lampu-lampu kota di kejauhan. Valerie memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.
Dalam pikirannya, terlintas potongan-potongan gambar kehidupannya sepanjang tahun yang lewat. Secara garis besar, Valerie merasa puas dengan apa yang telah ia lalui pada tahun itu. Prestasinya di sekolah cukup baik, hubungannya dengan teman-temannya cukup dekat, begitu pula dengan keluarganya.
Valerie terutama merasa bangga dengan sikapnya selama dua bulan terakhir. Sejak akhir bulan Oktober lalu, Valerie berjuang mengurangi porsi pikiran negatifnya, berhenti berbohong dan berkeluh kesah. Perlahan tapi pasti, ia mulai lebih banyak tersenyum dan menawarkan bantuan pada orang-orang di sekitarnya.
Tapi entah kenapa, sejak sore tadi hati Valerie diselimuti rasa suntuk dan kesal yang berlebihan. Mungkin karena ia jenuh akibat terus berada di rumah selama hampir seminggu pertama libur akhir tahunnya.
Tiba-tiba sebuah gagasan melintas di kepala Valerie. Tak jelas setan mana yang saat itu lewat dan membuat Valerie berpikir untuk berbuat ‘dosa kecil’ malam itu.
‘The last sin of 2006. Keren kali ya?’ batin Valerie, diiringi sedikit rasa malu dan bersalah di dalam hatinya karena telah berpikir demikian. Valerie mengedikkan bahunya, menepis segala bentuk keraguan yang ada. ‘Senang-senang di akhir tahun… sebelum memulai tahun baru penuh kebaikan.’ Valerie tersenyum di dalam hati. Matanya sempat tertuju pada taman kecil tak jauh dari rumahnya.
‘It’s not like I’m gonna kill someone or anything. Cuma ngerjain orang dikit…’
Valerie berdiri di tengah-tengah taman, melihat ke sekeliling. Tak banyak pengunjung taman malam itu. Jelas orang-orang akan lebih memilih untuk pergi ke lapangan besar di pusat kota. Selain lebih rame, lebih terang, banyak jajanan, ada hiburan dari band-band lokal, bahkan ada pertunjukan kembang api waktu tengah malam. Di taman tempat Valerie berada saat ini juga akan ada kembang api, tapi – mengutip istilah Valerie dan adik-adiknya – tak lebih dari kembang api ‘bohong-bohongan’, kembang api yang dipasang oleh anak-anak yang tinggal di daerah itu untuk sekadar meramaikan malam pergantian tahun. Yah, daripada nggak ada hiburan… begitu kira-kira.
Lampu-lampu taman itu terlihat begitu suram. Terlihat beberapa anak kecil bermain-main, dan satu dua pasangan duduk di bangku taman sambil mengobrol. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Valerie.
“Maaf Mbak,” panggilnya.
Valerie berbalik menghadapnya. Seorang wanita, kira-kira berusia 30 tahun atau lebih muda, memakai sweater berwarna gelap dan celana panjang, rambutnya diikat dengan rapi ke belakang. Raut wajahnya menggambarkan kebingungan dan bahkan, menurut pandangan Valerie, rasa takut.
“Iya?” Valerie memandang wanita tersebut dengan seksama. Ia merasa pernah mengenal sosok yang kini berdiri sambil sesekali melirik ke sekeliling dengan cemas di hadapannya.
“Anu, rumah Pak Lurah di mana, ya?” suara wanita itu terdengar nyaris seperti bisikan.
“Di…” Valerie hendak menunjuk ke rumah Pak Lurah di sebelah barat, namun tiba-tiba mengubah arah telunjuknya ke utara. “Di sana.”
“Di sana ya, Mbak?” wanita itu ikut menunjuk seperti yang dilakukan Valerie.
“Iya. Nanti jalan terus, abis itu belok kanan di simpang pertama sampai dapat rumah yang pagarnya biru.” Valerie sendiri kaget mendengar kata-kata yang baru dilontarkannya.
“Oke. Makasih ya, Mbak,” wanita itu bersiap melangkah meninggalkan Valerie. Ia masih sempat membalikkan badan untuk tersenyum pada Valerie dan sekali lagi mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya menghilang dari taman itu.
Valerie menatap kepergian wanita itu dengan perasaan tak menentu. Hatinya ingin berteriak memanggil kembali wanita itu untuk meminta maaf dan berkata jujur namun dirinya hanya mematung. Akhirnya ia duduk di salah satu bangku taman yang kosong, memperhatikan anak-anak yang bermain.
Entah berapa lama Valerie duduk di situ sampai akhirnya segerombolan orang datang ke taman. Mereka tampak resah dan… kacau. Sebagian dari mereka membawa senter, beberapa memegang tongkat-tongkat yang sepertinya terbuat dari bambu… sama sekali tidak terlihat bersahabat.
Valerie memperhatikan mereka dengan seksama. Salah seorang dari mereka mendekati seorang anak yang sedari tadi sibuk bermain bersama teman-temannya. Jarak mereka tidak cukup dekat bagi Valerie untuk mendengar apa yang dibicarakan. Namun ketika Valerie melihat anak itu menunjuk-nunjuk ke arahnya, tiba-tiba perasaan Valerie menjadi tidak enak.
Tampak orang itu mengangguk-angguk, mengacak pelan rambut anak yang ditanyainya, kemudian kembali ke kelompoknya. Sesaat kemudian, mereka berjalan menuju Valerie.
Rasa gelisah dan curiga membuat Valerie tidak dapat duduk tenang. Akhirnya ia berdiri untuk menghadapi orang-orang itu.
“Malam, dik,” tegur orang yang sebelumnya berbicara dengan anak kecil. Valerie akhirnya mengenali wajah orang itu sebagai milik Pak Lurah. Ada sesuatu yang berbeda pada Pak Lurah malam itu. Mata yang biasanya memancarkan kehangatan seorang bapak, kini terlihat kelam dan sedikit mengancam.
“Malam, Pak,” Valerie melirik cepat ke arah kumpulan orang yang mengikuti di belakang Pak Lurah, kemudian kembali menatap Pak Lurah.
“Kelurahan kita baru saja dirundung kemalangan…”
to be continued…
Uncategorized | Comment (1)