… On devient un peu serieux la …

October 31st, 2006

Kacau.

Nggak ada toleransi. Nggak ada keadilan.

Masalah nggak kunjung selesai, kian hari kian bertumpuk.

Sepertinya nggak ada masa depan.

Semua serba nggak jelas.

    When would I be able to tell other people around the world about my country with pride?

    Mungkin loe nggak peduli. Gue juga dulu nggak peduli. Last year, if people talked about nationalism to me, I would probably roll my eyes and give a cynical comment on the subject. Kalau baca slogan cinta tanah air, I would frown. I couldn’t understand how some people still expect me, you… us to devote ourselves to this country. Gimana mungkin gue mencintai negara yang bobrok seperti ini? Negara yang ribet, menurut pandangan gue. Banyak orang udah susah, makin disusahin. Padahal, bukannya negara dibentuk untuk melindungi dan menjamin kehidupan yang baik bagi rakyatnya? I just couldn’t find a reason to like, let alone love this country.    

    Now my perspective has changed. Bukannya sekarang gue udah bisa bilang “Gue cinta Indonesia”, tapi gue merasa perlu peduli akan keadaan tempat gue tinggal selama hampir 17 tahun hidup gue. If I don’t care, berarti gue termasuk kelompok orang yang bikin negara ini tambah terpuruk.

    Kenapa tiba-tiba gue peduli?

    Karena gue kepikiran ama ratusan ribu jiwa yang puluhan tahun lalu menderita bahkan gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan. They don’t know me, nor do I know them, but I believe that they struggled, fought and even died for me, for us. Kemerdekaan yang akhirnya berhasil diraih tahun ’45 itu bukan buat mereka, tapi buat kita. Kalau sekarang gue nggak peduli dan nggak berusaha memperbaiki keadaan sekitar gue, berarti pengorbanan mereka nggak berarti, nyawa mereka melayang sia-sia. When you give someone a gift and they don’t appreciate it, it hurts; even more when that gift is your own life.

    If we care, we can make a change. And hopefully one day, gue nggak perlu lagi merasa malu kalau ada yang nanyain keadaan di Indonesia, because by that day we would have lived in peace.